Monday, December 17, 2012

sejarah


[Image: tentara_romawi_kuno_1.gif]

Tentara Romawi, adalah istilah generik untuk angkatan bersenjata dikerahkan terestrial oleh kerajaan Roma (500 SM sampai ca.), yang Republik Romawi (500-31 SM), Kekaisaran Romawi (31 SM - AD 476) dan penerusnya, kekaisaran Byzantium (476-1453). Dengan demikian istilah yang mencakup sekitar 2.000 tahun, di mana angkatan bersenjata Romawi mengalami banyak permutasi dalam komposisi, peralatan organisasi, dan taktik, sambil melestarikan inti dari tradisi abadi.

Perkembangan tentara Romawi dapat dibagi menjadi 8 tahap-tahap berikut sejarah: 

Para tentara Romawi awal dari kerajaan Romawi dan Republik awal (untuk ca 300 SM.). Selama periode ini, ketika perang terutama terdiri dari skala kecil menjarah-serangan, telah menyarankan bahwa tentara Romawi diikuti Etruscan atau Yunani model organisasi dan peralatan. Romawi awal tentara berdasarkan retribusi tahunan atau pengerahan warga untuk musim kampanye-tunggal, maka istilah legiun untuk unit dasar militer Romawi (berasal dari legere, "untuk memungut").

Para tentara Romawi dari pertengahan Republik (alias sebagai "tentara manipular" atau "Polybian tentara" setelah sejarawan Yunani Polybius , yang menyediakan penjelasan yang paling rinci yang masih ada dari fase ini) periode pertengahan Republik (300 ca. - 107 SM). Selama periode ini, Roma, sementara mempertahankan sistem pungutan, mengadopsi Samnite manipular organisasi untuk legiun mereka dan juga terikat semua negara-negara lain Semenanjung Italia ke dalam sebuah aliansi militer yang permanen (lihat Socii ). Yang terakhir ini diminta untuk memasok (kolektif) kira-kira jumlah yang sama pasukan untuk pasukan gabungan seperti orang Roma untuk melayani di bawah komando Romawi. Legiun dalam fase ini selalu disertai kampanye dengan jumlah yang sama serumpun alae , unit kira-kira ukuran yang sama sebagai legiun.

Para Marian tentara Romawi (107-30 SM) menandai transisi antara retribusi warga-pengerahan berbasis pertengahan dan relawan Republik terutama, pasukan berdiri profesional era kekaisaran. Selama periode ini, kuasi-berdiri tentara diperintahkan oleh imperatores , panglima perang yang kuat seperti Gaius Marius , Lucius Cornelius Sulla , Caesar , Pompey , dan Mark Antony , yang diperebutkan kekuasaan tertinggi dalam perang saudara banyak. Sebagai hasil dari Perang Sosial (91-88 SM), semua orang Italia diberikan kewarganegaraan Romawi dan sekutu alae lama dihapuskan dan anggotanya diintegrasikan ke dalam legiun. Juga, warga-kavaleri Republik jauh berkurang dalam jumlah dan digantikan oleh kavaleri adat dari provinsi Romawi .

The Imperial tentara Romawi (30 SM - AD 284), ketika sistem Republik pungutan sementara digantikan oleh tentara profesional berdiri dari terutama relawan. Sebagaimana ditetapkan pertama kali oleh Kaisar Romawi , Augustus (30 SM penguasa tunggal - AD 14). Legiun, sekarang formasi infanteri hampir seluruhnya besar dan berat dari 5,000-6,000 laki-laki) masih terbuka hanya untuk warga negara Romawi (yaitu terutama penduduk Italia dan Romawi koloni sampai AD 212). Mereka sekarang diapit oleh auxilia , korps direkrut terutama dari peregrini , kekaisaran subyek yang tidak memegang kewarganegaraan Romawi (sebagian besar penduduk kerajaan sampai 212, ketika semua kewarganegaraan). Para auxilia dibagi ke dalam formasi jauh lebih kecil sekitar kohort ukuran (sekitar 500 orang). Ini berisi tidak hanya infanteri berat sebagai legiun, tetapi juga infanteri ringan, kavaleri berat dan ringan, pemanah dan Slingers. Kedua legiun dan resimen auxilia sebagian besar ditempatkan di sepanjang perbatasan kekaisaran.

Para tentara Romawi Akhir (284-476 dan lanjutannya, di bagian timur kekaisaran hidup, sebagai tentara Romawi Timur ke 641). Dalam fase ini, mengkristal oleh reformasi kaisar Diokletianus (memerintah 284-305), tentara Romawi kembali ke wajib militer yang sistematis untuk sebagian besar perekrutannya warga, sementara mengakui sejumlah besar non-warga negara barbar relawan. Namun, tentara tetap penuh waktu profesional dan tidak kembali ke jangka pendek pungutan Republik. Organisasi ganda lama Legion dan auxilia ditinggalkan, dengan warga dan non-warga negara sekarang melayani dalam satuan yang sama. Legiun tua dipecah menjadi kohort atau ukuran lebih kecil. Pada saat yang sama, sebagian besar efektifitas tentara ditempatkan di bagian dalam kekaisaran, dalam bentuk praesentales comitatus , tentara yang mengawal kaisar.

Para tentara Bizantium Tengah (641-1081), adalah tentara negara Bizantium dalam bentuk klasik (yaitu setelah kehilangan permanen nya Timur Dekat dan Afrika Utara ke wilayah penaklukan Arab setelah 641). Tentara ini didasarkan pada pengerahan pasukan profesional dalam tema karakteristik struktur periode ini, dan dari ca. 950 pada pasukan profesional yang dikenal sebagai tagmata .

Para pasukan Bizantium Komnenian , dinamai Komnenos dinasti, yang memerintah di 1081-1185. Ini merupakan pasukan dibangun hampir dari awal setelah kerugian permanen dari tanah perekrutan tradisional utama Byzantium dari Anatolia ke Turki setelah Pertempuran Manzikert pada tahun 1071, dan kehancuran resimen terakhir dari militer tua dalam perang melawan Normandia di 1080s awal. Ini bertahan sampai jatuhnya Konstantinopel ke tentara salib Barat di 1204. Tentara ini ditandai oleh sejumlah besar tentara bayaran resimen yang terdiri dari pasukan asal luar negeri seperti Garda Varangian , dan pengenalan pronoia sistem.

Para tentara Bizantium Palaiologan , dinamai Palaiologos dinasti (1261-1453), yang memerintah Bizantium antara pemulihan Konstantinopel dari Tentara Salib dan jatuh ke Turki pada 1453. Awalnya, hal ini berlanjut beberapa praktek warisan dari era Komnenian dan mempertahankan elemen pribumi yang kuat sampai akhir abad ke-13. Selama abad terakhir dari keberadaannya Namun, kerajaan itu sedikit lebih dari negara-kota yang mempekerjakan tentara bayaran band asing untuk pertahanan. Jadi tentara Byzantium akhirnya kehilangan koneksi bermakna dengan kekaisaran Romawi berdiri tentara.




1453, Perang Romawi vs Utsmaniyah Yang Mengubah Dunia (1)



MAHKAMAH.CO, Jakarta- Bila menelisik sejarah, agaknya tahun 1453 M, dianggap tak terjadi sesuatu yang berarti. Padahal, sejatinya alkisah yang terjadi di tahun itu, sangat mempengaruhi perkembangan dunia hingga seperti ini.

Di tahun 1453 itu, sebuah pertempuran dahsyat terjadi. Perang besar antara Utsmaniyah (Ottoman) dan Romawi. Perang itu memperebutkan kota Konstantinopel (kini Istambul). Seberapa penting Konstantinopel era itu? Napoleon  Bonaperte, pelaut Perancis menggambarkannya terang. Dia bilang, "Bila seluruh dunia ini adalah sebuah negara, maka kota yang pantas menjad i ibukotanya adalah Konstantinopel". George Trapezuntios, sejarawan Inggris juga berkisah serupa. "Tahta kekaisaran Romawi adalah Konstantinopel", katanya.

Konstantinopel kala itu adalah kota penting di dunia. Hampir seperti New York atau Washington era kini. Letaknya ada di belahan Asia, setengahnya lagi di daratan Eropa. Bagi masyarakat Eropa, kota itu jadi pusat perekonomian dunia. Seluruh barang yang dari Asia, yang jadi kebutuhan Eropa, diperdagangkan di Konstantinopel. Tak heran, kota itu menjelma jadi ibukota yang diburu siapapun.

Keindahan kota itu juga luar biasa. Sebuah gereja dibangun megah disana. Nama gereja itu adalah  Aya Sophia. Gereja itu jadi simbol kekuasaan Konstantinopel yang di tahun 1453 itu dikuasai Kaisar Justinian.

Penduduk Konstantinopel mulanya dikuasai oleh penganut Nasrani. Kaisar Justinian sangat taat pada agamanya. Mereka dibawah singgasana Romawi. Tapi kalangan penulis Barat menyebut kerajaan ini dengan Byzantium, bukan Romawi. Pasalnya Romawi yang berpusat di Roma, sudah hancur sejak abad 4 M. Tapi belahan dunia lainnya menyebut Byzantium ini sebagai Romawi Timur.

Medio Mei 1453, ribuan pasukan Utsmaniyah, sebuah imperium raksasa di era itu, melakukan pengepungan terhadap Konstantinopel. Perang dua negeri adidaya pun terjadi. Perang antara Utsmaniyah dan Romawi itu menyita perhatian seluruh dunia.

Tentara Utsmaniyah, dibawah pimpinan Sultan Mehmet II (Muhammad Al Fatih) melakukan pengepungan selama 59 hari. Seluruh dunia menyaksikan pengepungan itu. Eropa terdiam. Nusantara tertegun. Kalangan jazirah arab bersatu dibawah Utsmaniyah, mengepung Konstantinopel.

Sultan Al Fatih (sang Penakluk), memiliki ambisi tersendiri dalam penaklukan itu. Pasalnya Konstantinopel adalah kota yang dijanjikan Allah SWT bakal jatuh ke tangan umat Islam. Janji itu diucapkan Nabi Muhammad SAW di abad 6 Masehi. Dalam sebuah Hadist, Nabi SAW sempat berkata, "Suatu saat Konstantinopel akan takluk di tangan seorang pemimpin (Islam). Ditangannya dialah sebaik-baiknya pemimpin dan sebaik-baiknya pasukan".

Sabda Rasul itu menjadi pemantik kaum muslimin di seluruh dunia untuk ikut dalam barisan tentara Utsmaniyah. "Bila ada orang yang ditolak masuk bergabung dalam tentara Utsmaniyah, bisa dibilang dia akan malu sekali," tutur Feliz Siau, seorang penulis buku “1453 Muhammad al Fatih” kepadaMahkamah.co. Jadi, sambung Felix lagi, gambaran saat itu di kalangan umat Islam sangat berlomba-lomba masuk dalam tentara Utsmaniyah untuk menaklukan Konstantinopel. "Karena itu adalah kota yang dijanjikan jatuh ke tangan Islam," tukasnya lagi.

Alhasil pengepungan pun dilakukan. Ternyata menaklukan Konstantinopel tak semudah membalikkan telapak tangan. Kota itu sudah pengalaman dalam pengepungan. Hampir puluhan kali kota itu dikepung musuh-musuhnya. Tapi tak pernah berhasil. Pasalnya Konstantinopel dikeliling benteng berlapis tiga, yang mustahil ditaklukan dengan alat perang biasa-biasa.

Sultan Al Fatih kemudian menggunakan Meriam sebagai metode baru dalam peperangan. Meriam  tercatat pertama kali digunakan dalam perang, adalah dalam pertempuran itu. Eropa sendiri belum pernah mengenal meriam, Utsmaniyah menggunakannya.

Selama 59 hari, akhirnya pasukan Islam berhasil menjebol tembok Konstantinopel. Meriam dan peralatan perang itu mampu menembus kota terindah di dunia itu.

Tanggal 29 Mei 1453, Sultan Muhammad Al Fatih memasuki gerbang Konstantinopel untuk pertama kalinya. Kemenangan Utsmaniyah ini disambut hangat seluruh umat Islam di dunia. Namun kalangan Eropa berlomba-lomba mengutuknya. Di era itulah Islam berjaya menguasai dunia. Peralatan militer Utsmaniyah adalah tercanggih di dunia. Selain meriam, Utsmaniyah mengenalkan pada dunia sebuah pasukan khusus. Namanya janisari. Pasukan khusus inilah yang kemudian ditiru menjadi lembaga intelijen di dunia, termasuk CIA, Mossad dan lainnya.

Kemenangan Utsmaniyah ini hampir mirip dengan menangnya Sparta atas Troya, pertempuan yang terjadi di tempat yang sama, 1700 SM. Kala itu, Troya dikepung selama 10 tahun oleh Sparta. Tapi Agamemnon, Raja Sparta berhasil menang karena memakai medote licik, kuda Troya. Setelah 10 tahun mengepung Troya, tentara Sparta tak kunjung bisa menjebol tempok Troya. Akhirnya mereka frustasi. Tapi cara licik dimainkan. Sparta membangun sebuah kuda raksasa. Didalamnya ratusan tentara Sparta berdiam diri. Kuda itu kemudian dimasukkan ke dalam gerbang kota Troya. Troya tertipu. Mereka merayakan kemenangan besar-besaran karena merasa sudah berhasil menang perang.

Di malam hari, kala tentara Troya mabuk kemenangan, para tentara Sparta yang berdiam dalam kuda itu pun turun. Mereka menyerang pasukan Troya. Ribuan tentara Sparta sudah menanti di gerbang Troya untuk masuk. Troya pun terbakar. Sparta menang perang.

Tapi kemenangan Utsmaniyah kali ini bisa dibilang gentlement. Tembok Konstantinopel benar-benar hancur oleh taktik militer yang canggih, peralatan tempur mumpuni dan pasukan yang bersemangat luar biasa. “Karena seluruh tentara Utsmaniyah yakin dengan Bisyarah, sebuah janji Allah SWT,” tutur Felix lagi. Bisyarah inilah yang dimiliki Al Fatih untuk menaklukkan Konstantinopel. Tak perlu dengan cara licik seperti Sparta. 

No comments:

Post a Comment